Layanan Interaktif : 082173853836
Seseorang yang mengalami ketergantungan/kecanduan memerlukan psikoterapi bahkan farmakoterapi untuk mengurangi tingkat adiksi dan dampak dialami. Ada tiga jenis terapi yang digunakan para praktisi psikiatri untuk menangani kasus adiksi, antara lain:
1) Cognitive Behavior Therapy (CBT)
Orang yang memiliki ketergantungan terhadap sesuatu, dia sudah mempunyai pola pikir tertentu. Untuk itu, CBT digunakan untuk memodifikasi pikiran-pikiran negatif agar dapat disubstitusi dengan pola pikir yang lebih positif.
“Dia kan sudah punya pikiran bahwa dengan main game saya senang, kalau saya mau senang saya harus game. Nah, untuk memodifikasi pikirannya, kita ganti menggunakan metode ini”, ujar dr. Kristiana Siste, SpKJ(K) saat ditemui dari Departemen Psikiatri FK UI RSCM, Senin petang (2/7).
2) Motivational Interview (MI)
Metode ini lebih cocok bagi pasien para remaja dan dewasa muda. Mengingat pengambilan keputusan (otonomi) dalam terapi sepenuhnya ada di tangan pasien.
3) Terapi Perilaku
Metode ini dilakukan dengan cara memodifikasi lingkungan untuk menurunkan motivasi pasien untuk menghambat ketergantungannya. Salah satu contohnya, untuk pasien yang kecanduan gadget dan internet, perlu membuat rule, misalnya menggunakan gadget hanya di area keluarga atau tidak ada wifi di kamar.
“Bermain game itu untuk senang? Nah, kita alihkan ke berbagai bentuk aktifitas atau kegiatan yang menyenangkan. Perlu digali aktifitas nyata yang bisa membuat senang misalnya camping atau memasak misalnya,” imbuh dr. Siste.
Sementara itu, dr. Eva Suryani, SpKJ menambahkan bahwa pendekatan pengobatan hanya diberikan kepada pasien dengan co-morbid, misalnya misalnya dengan gangguan kecemasan kah atau dengan gangguan depresi.
“Selain psikoterapi dengan farmakoterapi dengan obat-obatan tergantung gejala yang dialami,” tutur dr. Eva.
Klinik Adiksi RSCM-FKUI
Saat ini, Dept. Psikiatri Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia bekerjasama dengan RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo telah mendirikan layanan psikiatri yang cukup komprehensif untuk menangani pasien-pasien ketergantungan (adiksi).
Tenaga di dalamnya terdiri dari para psikiater adiksi, psikiater anak dan remaja, ada juga psikiater marital therapy, dan neuropsikiatri.
“Perlu kolaborasi, karena seringkali ada kaitannya antara satu dengan yang lain,” terang dr. Siste
Klinik ini terbuka untuk umum. Pasien yang ingin berkonsultasi atau terapi diharuskan untuk datang secara langsung ke Gedung Poliklinik Jiwa Dewasa lantai 4. Klinik Adiksi membuka layanan setiap Senin-Jumat pukul 08.00-14.00 WIB.
“Sejak dibuka sebulan yang lalu( (Juni 2018), klinik ini telah menangani punya 10 pasien adiksi”, tuturnya.
Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Masyarakat
drg. Widyawati, MKM
Dikutip dari ------> https://kemkes.go.id/id/ada-tiga-jenis-terapi-atasi-adiksi
Akselerasi program unggulan ANANDA BERSINAR (Aksi Nasional Anti Narkotika Dimulai dari Anak Bersih Narkotika) terus diperkuat oleh Badan Narkotika Nasional (BNN) melalui berbagai aktivitas yang melibatkan anak-anak sebagai bagian aktif dalam pelaksanaan program.
Penguatan tersebut diwujudkan melalui pelantikan 3.717 “Sobat Ananda Bersinar” yang terdiri atas 2.899 siswa dan 818 guru dari 833 sekolah SMA/SMK/MA/SR se-DKI Jakarta. Pelantikan dilakukan langsung oleh Kepala BNN RI, Suyudi Ario Seto, di Menara 165, Jakarta Selatan, pada Rabu (6/5), dengan disaksikan oleh jajaran Forkopimda DKI Jakarta, para pejabat pimpinan tinggi madya dan pratama di lingkungan BNN, serta tokoh masyarakat.
Kegiatan yang digagas oleh BNN Provinsi DKI Jakarta ini menjadi langkah strategis dalam memperkuat peran generasi muda sebagai peer educator dan agen perubahan dalam mendukung upaya Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN).
Kepala BNN RI dalam sambutannya menegaskan bahwa pelantikan ini bukan sekadar formalitas, melainkan manifestasi nyata kepedulian bersama dalam menjaga masa depan generasi emas Indonesia.
“Kita berupaya dan berharap anak-anak Kita tumbuh sehat, berkembang, cerdas, dan kuat sebagaimana diamanatkan oleh Presiden RI. Jangan sampai anak-anak Kita salah jalan dan menjadi kontraproduktif terhadap program-program Presiden yang berfokus pada kesejahteraan anak-anak Indonesia,” ujar Kepala BNN RI.
Lebih lanjut, Kepala BNN RI berharap pelantikan “Sobat Ananda Bersinar” di DKI Jakarta ini dapat menjadi pelopor di wilayah lain, sehingga tumbuh menjadi kekuatan besar dalam mendukung terwujudnya Indonesia Emas 2045 menuju Indonesia Bersinar.
Menutup sambutannya, Kepala BNN RI menitipkan pesan kepada para “Sobat Ananda Bersinar” agar mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh serta menjadi cahaya penerang di lingkungan masing-masing, sekaligus tidak memberi ruang bagi narkotika untuk merusak mimpi dan masa depan mereka.
Ia juga menegaskan bahwa upaya yang dilakukan BNN saat ini bukan untuk memerangi individu, melainkan kejahatan narkotika, dengan tetap mengedepankan pemulihan bagi korban dan pembinaan bagi generasi penerus bangsa.